[08.15] Oleh: Raka Yusuf


Hmmm, serius bener nih judulnya. Tapi insya Allah bermanfaat.
Banyak sekali kita lihat di koran, televisi, atau bahkan di lingkungan terdekat kita sendiri, banyak sekali orang yang dengan mudah menggunjingkan orang lain. Yang disebut "saudara" pada judul di atas bukan secara harfiah berarti saudara sekandung atau sepertalian darah saja, tapi lebih luas lagi, saudara sesama muslim. Perhatikan tayangan televisi, terutama infotainment. Ada cukup banyak (meskipun tidak semua) berita yang dapat dikategorikan sebagai membicarakan aib orang lain (bahasa agamanya: ghibah).
Sedih sekali rasanya. Makin sedih lagi manakala ada sebagian orang yang berani (dan tambah berani) membeberkan aib atau kebobrokan atau kejelekan saudaranya sendiri di ruang publik, baik itu koran, majalah, televisi, internet, blog, dan lain-lain, dengan dalih kejujuran. Ada yang aneh, bukan? Kebobrokan saudara sendiri harus diperbaiki, secara internal, dan bukan untuk dibeberkan kepada publik. Nasihatilah dia, begitu kata Rasulullah.
Apakah membeberkan keburukan saudara sendiri dapat dikategotikan sebuah kejujuran? Mari kita simak beberapa dalil berkenaan soal ini.
Pertama-tama, kita simak hadits Nabi,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدِّينُ النَّصِيحَةُ قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Rasulullah SAW bersabda, "Agama adalah nasihat." Para sahabat bertanya, "Untuk siapa?" Jawab Rasulullah, "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum." (H.R. Bukhari dan Muslim dan ahli hadits lainnya)

Jadi, sedapat mungkin, bila saudara kita sesama muslim berbuat salah, atau kejelekan, kedepankanlah nasihat. Ghibah alias menggunjingkan orang lain alias membeberkan aib saudara sendiri, hukumnya adalah haram! Bahkan untuk perbuatan keji sekalipun. Allah berfirman di dalam Al-Quran,

قَإِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. An-Nur: 19)

Dalam kasus tertentu ghibah diperbolehkan (Pranowo, 2010). Tiga di antara keadaan yang memperbolehkan ialah:
  1. Bila kita dizhalimi. Bila demikian kasusnya, maka kita boleh mengadukan kepada penguasa atau hakim atau orang-orang yang memiliki wewenang atau orang yang memiliki kemampuan untuk menghentikan kezhaliman orang yang berbuat zhalim itu.
  2. Meminta pertolongan untuk menghentikan kemunkaran dan mengembalikan orang-orang yang berbuat maksiat kepada kebenaran dengan penjelasannya yang mengatakan kepada orang yang diharapkan kesanggupannya untuk menghilangkan kemunkaran.
  3. Meminta fatwa atau penjelasan kepada seorang yang jauh mengerti agama dibanding kita.
Ada beberapa keadaan lainnya, silakan baca lebih lengkap di sini.

Membuka aib saudara kita sendiri ibarat memakan daging bangkainya, seperti firman Allah dalam Al-Quran,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

"Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang" (Q.S. Al-Hujarat: 12)

Terakhir, ingatlah bahwa semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, karena manusia adalah tempat salah. Siapa kita berani menilai orang lain? Kita pun mungkin bagian dari orang-orang yang berbuat salah. Namun demikian, hanya yang bersungguh-sungguh memperbaikinyalah yang mulia di sisi Tuhan. Rasulullah bersabda,

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ

"Semua anak keturunan manusia bersifat salah, dan sebaik-baik mereka yang salah adalah yang paling banyak bertaubat." (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Actually, dari beberapa sumber dan referensi, membuka aib teman kita yang non-muslim juga sama saja ibarat memakan bangkai teman sendiri. Silakan perdalam referensi di bawah ini. Wallaahu a'lam.

Kesimpulannya, membeberkan aib itu bukan masalah kejujuran, Bung. Hukumnya sudah jelas di dalam Islam.

Terima kasih. Semoga saya, Anda, dan kita semua selalu memperoleh hidayah. Amin.


Referensi:
http://www.al-ikhwan.net/antara-nasihat-dan-fadhihah-membuka-aib-2106/
http://answering.wordpress.com/2010/01/09/membuka-aib-sesama-muslim/
http://groups.gloog.com.br/answer/pt_br/answer_20080820050707AAcJTUO.html?categoryId=396545163
Labels: edit post
0 Responses

Posting Komentar