[19.03] Oleh: Raka Yusuf



Manusia adalah tempatnya salah. Sebagai manusia, berbuat salah merupakan hal yang wajar. Tetapi, bagaimana dengan orang yang selalu menggunakan kalimat di atas sebagai alasannya untuk berbuat salah? Boleh-boleh saja sih. Yang ngga boleh tuh mengulang-ulang kesalahan yang sama. Ya ini pendapat pribadi sih.
Kenapa mengulang kesalahan itu tidak boleh? Eh, siapa bilang. Yang tidak boleh itu mengulang-ngulang kesalahan. Untuk hal yang satu ini, kualitas seorang manusia diukur dari seberapa sering ia mengulangi sebuah kesalahan. Asumsinya manusia itu pasti melakukan kesalahan. Semakin sering seseorang mengulangi kesalahan, semakin jelek kualitasnya.
Sekarang pertanyaannya kenapa mengulang-ulang kesalahan itu tidak boleh? Mari berhitung. Sebetulnya ada berapa jenis kesalahan yang mungkin diperbuat manusia? Satu, sepuluh, ratusan, atau ribuan? Anggaplah seratus. Dengan asumsi bahwa semua manusia pasti pernah berbuat salah, maka manusia dengan kualitas yang paling tinggi ialah manusia yang hanya melakukan satu kesalahan (dari seratus kemungkinan) dan satu kali itu saja. Itu pasti manusia hebat. Amat hebat. Tentunya kita semua berharap menjadi manusia seperti ini.
Bagaimana dengan manusia 'biasa'? Anggaplah seumur hidupnya pernah melakukan seratus kesalahan yg mungkin dilakukan itu. Mari berhitung kenapa mengulangi kesalahan menjadi hal yang buruk. Andaikan setiap kesalahan diulangi satu kali saja, maka seorang manusia berpotensi melakukan 200 kesalahan. Ini amat jauh dari si manusia hebat tadi. Bahkan ini masih lumayan lebih buruk dari si manusia 'biasa'. Sekarang, bagaimana dengan mengulang-ulang kesalahan? Seandainya setiap kesalahan diulangi dua kali saja, maka manusia berpotensi melakukan 300 kesalahan. Jika diulang tiga kali setiap kesalahan, potensinya naik menjadi 400, dan seterusnya.
Sekarang, berapa banyak sesungguhnya jenis kesalahan yang bisa dilakukan seorang manusia seumur hidupnya? Betul seratus? Atau ratusan? Berapa kali kita biasa mengulangi kesalahan yang sama? Dua kali? Empat kali? Silakan hitung sendiri potensi kita, akan sejauh apa posisi kita dari si manusia hebat tadi.
Matematika yang menarik bukan? :) Kesimpulannya, marilah kita mencoba menjadi manusia yang tidak mengulang-ulang kesalahan yang sama. Kita mungkin tidak bisa menjadi si manusia hebat, tapi kita bisa berusaha berada di antara si manusia 'biasa' dengan si manusia hebat.
Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan untuk menghindari kesalahan. Amin.
Labels: , edit post
0 Responses

Posting Komentar