[07.07] Oleh: Raka Yusuf
Dikisahkan seorang bangsawan kaya dan terhormat tinggal bersama istri dan putranya yang tampan. Sang bangsawan setiap hari sibuk bekerja, demikian juga istrinya. Ia mempunyai berbagai kegiatan di luar rumah sehingga putra kecilnya lebih sering ditemani oleh pengasuhnya. Putra bangsawan itu berusia lima tahun dan sedang tumbuh dengan segenap kenakalan dan kebandelannya sebagai anak-anak. Keaktifan si kecil terhenti bila dia mulai menggambar, mencorat-coret tanah di halaman belakang, atau menggoreskan kuasnya ke berbagai permukaan yang disediakan oleh pengasuhnya.
Sang bangsawan adalah pahlawan kebanggaan kota itu. Karena jasanya membela Negara, raja menghadiahkan sehelai kain sutera berlapis emas yang indah sekali. Suatu hari, saat si pengasuh lengah menjaga si kecil, terjadilah malapetaka. Si putra bangsawan ketika melihat kain sutera berlapis emas yang ada di atas meja, segera menjadikannya alas untuk menggambar. Akibatnya kain sutera nan indah itu coreng-moreng penuh tinta hasil coret-coretannya.
Ketika sang bangsawan dan istrinya tiba di rumah, dengan kegembiraan khas seorang anak, tanpa merasa bersalah sedikitpun, putra bangsawan itu memamerkan hasil coretannya di atas kain sutera emas pemberian sang Raja. Seketika itu, sang bangsawan kaget dan langsung meledak amarahnya. Sambil berteriak, diambilnya alat pemukul.
“Dasar anak nakal, yang kamu corat-coret itu adalah sutera emas penghargaan Raja kepada Ayah! Kamu memang nakal! Rusak sudah kehormatan ayahmu ini! Memangnya tidak ada tempat lain untuk menggambar?!” sambil terus sibuk memukuli tangan si anak dengan alat pemukul.
“Ampun, Ayah. Ampun! Sakit, Ayah,” teriak si anak, terkejut tidak mengerti sambil menangis kesakitan. Si Ibu terhenyak menyaksikan kain sutera yang rusak dan terdiam menyaksikan kemarahan sang suami tanpa berbuat apa-apa.
Esoknya saat si kecil dimandikan, terdengar lirih suara tangis kesakitan dari kamar mandi. Pukulan ayahnya kemarin ternyata meninggalkan luka di jari dan telapak tangannya. Beberapa hari kemudian mereka tergesa-gesa membawanya ke dokter. Ditemukan luka bekas pukulan yang membengkak kehitam-hitaman dan terpaksa harus diamputasi demi menyelamatkan nyawa si anak.
Saat si anak sadar pasca operasi dilihatnya ayah, ibu, dan si pengasuh menunggu di sisi tempat tidur dengan tatapan sedih dan berurai air mata. Si anak pun menyapa, “Ayah, Ibu, jangan bersedih begitu. Sungguh Ananda menyesal dan mohon maaf telah membuat Ayah dan Ibu marah dan kesal. Tapi tolong, Ayah, Ibu, kembalikan tangan Ananda, karena tanpa tangan ini bagaimana Ananda menyalami Ayah dan Ibu untuk memohon ampun?”
Mendengar kata si kecil, meledaklah tangis kedua orangtua itu karena mereka sadar, penyesalan sedalam apapun tak akan mungkin mengembalikan utuh tangan anak mereka.

Hikmah:
Kemarahan yang tidak terkendali sesungguhnya adalah emosi yang membutakan mata hati. Betapa penting nilai kontrol diri dalam mengendalikan setiap amarah atau emosi yang muncul, karena ketidak-mampuan pengendalian diri, tanpa memperhatikan akibat dan resiko yang muncul, sehingga penyesalan pun selalu di belakang menyertainya. Tentu, kita butuh melatih dan membiasakan diri untuk mengendalikan setiap emosi yang negatif dan menjadi majikan kesabaran bagi diri sendiri. Dengan demikian, niscaya kehidupan di muka bumi ini akan menjadi damai, jauh dari malapetaka, dan tanpa penyesalan di kemudian hari.

-------
Cerita ini diambil dari acara di Radio Sonora FM, Jakarta, tanggal 18-Des-2010 17:50 WIB.
Gambar diambil dari: http://etc.usf.edu/clipart/4700/4782/king_16_lg.gif.

Labels: , edit post
0 Responses

Posting Komentar