[16.24] Oleh: Raka Yusuf

Tidak terasa bulan suci Ramadhan sudah memasuki hari kesebelas. Memasuki sepertiga kedua dimana inilah bagian untuk kita memperoleh maghfirah (ampunan) dari-Nya, setelah sepertiga pertama yang merupakan bagian dimana kita mendapat rahmat. Di bulan ini tuntutan buat kita amat jelas: mengalahkan semua bentuk hawa nafsu negatif yang dapat membatalkan puasa atau mengurangi pahalanya. Semua cobaan yang kita lihat dan kita rasa harus kita jalani dengan ektra sabar di bulan ini. Kesabaran menjadi kunci utama untuk bejalan di bulan ini.
Ada banyak cobaan yang kita hadapi. Rata-rata cobaan itu kasat mata. Artinya, sesuatu yang amat mudah kita kenali sebagai cobaan. Contohnya ialah musibah, entah itu kecelakaan, kehilangan, terluka, ataupun hal-hal lain yang tiba-tiba "menyerang" kita. Namun, ternyata ada banyak juga cobaan yang tidak kasat mata, artinya tidak kita sadari sebagai cobaan. Kebanyakan dari cobaan model ini mengambil bentuk kesenangan atau nikmat. Contohnya wajah yang cantik atau ganteng (ahem!) dan harta. Memiliki gaji yang besar, misalnya, harus kita syukuri sebagai sebuah nikmat, tapi dari sisi lain jug harus kita sadari sebagai sebuah cobaan. Mampukah kita mensyukurinya sebagai sebuah anugrah dari Yang Maha Pengasih, ataukah kita anggap sebagai keharusan atas jerih payah dan kerja keras kita? Mampukah kita menafkahkan sebagian dari harta kita di jalan Allah, ataukah kita merasa bahwa nasib orang-orang yg kurang beruntung sebagai bukan urusan kita?
Posisi kita yang lebih tinggi dibanding orang lain juga merupakan anugrah yang bisa dipandang sebagai cobaan juga. Mampukah kita mengayomi orang lain? Mampukah kita menggunakan posisi kita untuk membuat orang lain menjadi lebih maju? Karena, sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain. Hanya orang piciklah yang tidak mampu mengenali sebuah nikmat sebagai sebuah cobaan.
Dengan menyadari bahwa nikmat juga merupakan cobaan dari sudut pandang lain, insya Allah kita akan menjadi orang yang lebih bersyukur. Amin.